Cari Artikel

Unknown

Kasus Prita ternyata bukan merupakan yang pertama kalinya. Prita adalah satu dari sekian korban akibat buruknya UU ITE. Berikut adalah daftar korban-korban dari adanya UU ITE:

  1. 13 Mei 2005

    Revrisond Baswir, dilaporkan oleh S*TV karena dituduh mencemarkan nama baik lewat milis internet.

  2. 14 Juli 2008

    Iwan Piliang, dilaporkan oleh anggota DPR PAN Alvin Lie karena dituduh mencemarkan nama baik lewat milis internet.

  3. 3 Juni 2009

    Prita Mulyasari, dilaporkan oleh RS Omni Internasional Tangerang dituduh mencemarkan nama baik lewat e-mail internet.

Dan masih ada lagi korban-korban yang ditangkap karena menulis di surat pembaca.

Jika seperti ini, berarti kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan pers yang semu. Bahkan dari sekian nama di atas, ada institusi yang bergerak dalam bidang jurnalistik (pers) pun tidak bisa begitu menghargai apa arti dari sebuah kebebasan berpendapat.

Padahal di lain pihak, institusi tersebut juga sama-sama pers yang memberikan dan mengeluarkan pendapat. Sangat disayangkan. Oleh karena itu, sudah saatnya UU yang memasung kebebasan rakyat Indonesia tersebut ditinjau ulang untuk kebaikan dan kemajuan demokrasi Indonesia. (NL)


Baca juga: Undang-Undang ITE, Mengkhianati Reformasi dan Memasung Demokrasi di Indonesia


Beri Komentar ..
Unknown


Kasus Prita yang marak diperbincangkan belakangan ini membuat dunia IT Indonesia terhenyak. Indonesia, yang telah melalui proses reformasi menuju demokrasi, berubah menjadi negara yang demokrasinya sangat maju. Demokrasi yang dilahirkan dari proses reformasi ini identik dengan kebebasan rakyat terutama dalam hal kebebasan berpendapat.

Jika sebelumnya seseorang mengkritik pemerintah akan dihukum, hal itu tidak terjadi lagi sejak era reformasi. Jika sebelumnya pers terkukung dalam kekuasaan pemerintah, sekarang sudah tidak lagi karena pers sudah hampir bebas sepenuhnya menurut undang-undang walaupun masih sedikit dikontrol oleh kode etik jurnalistik. Pers dan masyarakat menjadi sangat kritis terhadap pemerintah, pers mengkritik segala macam hal yang tidak benar dengan jalan memberitakan kepada masyarakat dan masyarakat mengkritik segala sesuatunya dengan jalan berdemonstrasi.

Karena inilah, pers menjadi sangat bebas, dan oleh karena ini pula Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam yang paling maju demokrasinya, sampai dunia internasional memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Indonesia.

Namun, semua itu hilang dan lenyap ketika mencuatnya kasus Prita. Ternyata, setelah ditelusuri lebih lanjut, Prita bukan merupakan yang pertama. Prita merupakan satu dari banyak orang yang menjadi “korban” dari kekeliruan peraturan yang dibuat UU ITE. UU ITE benar-benar memasung kebebasan masyarakat Indonesia terutama masyarakat kecil yang mengeluarkan pendapatnya di internet.

Hal ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar reformasi dan demokrasi. Kebebasan berpendapat menjadi tidak berlaku lagi di Indonesia.

Oleh karena itu, mari kita tentang UU ITE dan desak pemerintah dalam hal ini DPR untuk melakukan revisi terhadap UU yang memasung kebebasan rakyat Indonesia tersebut. (NL)

Baca juga: Para Korban Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik

Beri Komentar ..
Unknown

KKN merupakan sesuatu yang sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia ini. Orde Baru 'berhasil' menumbuhkan dan mengembangkan budaya ini di Indonesia. Jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata budaya yang dikembangkan oleh rezim Orba inilah yang menyebabkan sulitnya Indonesia untuk berkembang menjadi negara maju.

Perlu diketahui, hampir seluruh dunia pada saat ini telah memasuki era globalisasi termasuk Indonesia. Perdagangan antar negara menjadi sangat bebas dan mudah. Salah satu fenomena yang ditimbulkan dari globalisasi 20 tahun belakangan ini adalah penanaman modal di berbagai negara.

Suatu perusahaan yang dahulu membuat semua produknya di dalam negeri mulai keluar dari negaranya untuk mencari negara lain yang memiliki tenaga kerja yang lebih murah merujuk kepada efisiensi produksi. Perusahaan-perusahaan dari negara maju berlomba-lomba memindahkan produksinya ke negara dengan tenaga kerja yang lebih murah. Dan ternyata hal ini membawa efek positif terhadap perusahaan. Perusahaan dapat memproduksi barang yang sama dengan biaya yang jauh lebih murah daripada jika diproduksi di dalam negeri.

Efeknya? Tentu saja negara-negara yang maju tersebut 'kehilangan' pabrik-pabriknya yang menyebabkan meledaknya pengangguran di negara tersebut, Jepang contohnya, pada waktu awal globalisasi, Jepang menikmati kejayaannya, namun setelah penanaman modal di negara lain menjadi trend, pabrik-pabrik produksi di Jepang banyak yang ditutup dan dipindah ke negara lain yang menyebabkan meledaknya pengangguran yang menjadi salah satu faktor memburuknya perekonomian Jepang.

Namun di lain pihak, negara-negara dengan tenaga kerja murah mengalami kemajuan luar biasa karena derasnya aliran modal dari luar negeri yang masuk ke negaranya. Ambilah contoh China, dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, China berevolusi dari negara miskin menjadi negara super kaya dengan cadangan devisa terbesar di dunia melebihi Amerika Serikat.

Masih banyak lagi negara-negara yang sangat menikmati era globalisasi ini sebutlah negara India yang perlahan tapi pasti menuju kemajuan, Brazil, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Tetapi, dimana Indonesia?

Perlu diingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia dan dengan tenaga kerja yang murah juga. Tetapi mengapa Indonesia justru tertinggal dengan negara lain di saat negara lain yang serupa dengan Indonesia menikmati globalisasi ini? Sedangkan jika dilihat secara garis besar, Indonesia seharusnya sangat strategis sebagai 'teman' dari China dan India sebagai tempat primadona untuk investasi, rakyat banyak – tenaga kerja murah. Terlebih Indonesia juga memiliki tempat yang strategis, lebih strategis dibanding India. Tetapi mengapa?

Jawabannya adalah karena Indonesia sangat-sangat tidak nyaman digunakan untuk sarana investasi yang akar permasalahannya karena satu kata, KKN. KKN yang sangat parah di kalangan birokrasi menyebabkan perusahaan asing cukup bingung dan dipusingkan karenanya. Segala sesuatu izin yang diproses di Indonesia ini memerlukan 'amplop' untuk menyelesaikannya. Michael Backman dalam bukunya Asia Future Shock yang membahas tentang kebangkitan negara-negara di Asia menyebutkan bahwa gerbang kemajuan negara Asia di dunia adalah pada sekitar tahun 2020. Jika gerbang itu tertutup, maka akan sulit negara tersebut untuk maju. Ia menyebutkan juga bahwa Indonesia sebenarnya punya potensi yang sangat besar untuk maju, namun ia menyoroti satu hal yang menyebabkan Indonesia akan sulit untuk maju, korupsi. Lanjutnya, korupsi menyebabkan tenaga kerja yang murah di Indonesia ini tidak menjadi murah karena banyaknya uang-uang 'liar' yang harus dibayarkan dan memiliki jumlah yang tidak sedikit. Ini yang menyebabkan investasi di Indonesia menjadi tidak murah lagi bahkan menjadi sangat mahal dibanding negara lain, masih diperparah lagi karena Indonesia sendiri tidak terlalu welcome terhadap investasi dari luar, jika di negara lain sebuah perusahaan ingin berinvestasi diberikan segala kemudahan, di Indonesia sebaliknya yang menyebakan kaburnya investor-investor asing ke negara lain seperti China atau Malaysia. Michael Backman mengatakan, pilihannya tinggal dua, jika Indonesia dapat mengatasi masalah korupsinya sebelum 'pintu kemajuan' tertutup, Indonesia akan menjadi negara maju, namun jika tidak bisa, Indonesia akan tetap seperti sekarang dan akan lebih sulit lagi untuk menjadi negara yang maju.

Bahkan Presiden AS, Barack Obama pun menyoroti hal ini. Obama dalam bukunya Audacity of Hope (Menerjang Harapan), menceritakan khusus tentang Indonesia dan masa kecilnya pada awal buku sebanyak +/- 10 halaman. Ia menyebutkan hal yang cukup memprihatinkan dari Indonesia adalah maraknya korupsi, ia mengambil contoh bahwa aparat keamanan sekalipun (polisi) dapat diberi imbalan tertentu untuk melakukan hal tertentu. Dan ia juga berkesimpulan sama bahwa masalah yang sangat pelik dan menyebabkan terhambatnya kemajuan Indonesia adalah korupsi.

Korupsi benar-benar menghancurkan Indonesia. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengajarkan ke generasi berikutnya untuk tidak melakukan budaya ini lagi. Jika Indonesia dapat mengatasi hal ini, niscaya Indonesia akan menjadi negara yang lebih maju daripada sekarang. (NL)

Beri Komentar ..
Unknown

Berikut adalah hasil akhir pemilu legislatif 2009 dari KPU yang diumumkan pada tanggal 9 Mei 2009 dan untuk jumlah kursi legislatif yang telah direvisi KPU pada tanggal 13 Mei 2009.

Revisi mengubah perolehan kursi partai-partai sebagai berikut.

Awal

Revisi

Jumlah

Presentase

Jumlah

Presentase

148

26,43%

150

26,79%

108

19,29%

107

19,11%

93

16,61%

95

16,96%

59

10,54%

57

10,18%

42

7,50%

43

7,68%

39

6,95%

37

6,61%

26

4,64%

27

4,82%

30

5,36%

26

4,64%

15

2,68%

18

3,21

Berikut adalah daftar lengkap hasil pemilu legislatif 2009 versi resmi KPU yang telah direvisi.

Baca dan bandingkan juga dengan Hasil Akhir Quick Count Pemilu Legislatif 2009.

Nama Partai

Suara

Kursi

Jumlah

Presentase

Jumlah

Presentase

Demokrat

21.703.137

20,85%

150

26,79%

Golkar

15.037.757

14,45%

107

19,11%

PDIP

14.600.091

14,03%

95

16,96%

PKS

8.206.955

7,88%

57

10,18%

PAN

6.254.580

6,01%

43

7.68%

PPP

5.533.214

5,32%

37

6,67%

PKB

5.146.122

4,94%

27

4,82%

Gerindra

4.646.406

4,46%

26

4.64%

Hanura

3.922.870

3,77%

18

3.21%

PBB

1.864.752

1,79%



PDS

1.541.592

1,48%



PKNU

1.527.593

1,47%



PKPB

1.461.182

1,40%



PBR

1.264.333

1,21%



PPRN

1.260.794

1,21%



PKPI

934.892

0,90%



PDP

896.660

0,86%



Barnas

761.086

0,73%



PPPI

745.625

0,72%



PDK

671.244

0,64%



RepublikaN

630.780

0,61%



PPD

550.581

0,53%



Patriot

547.351

0,53%



PNBK

468.696

0,45%



Kedaulatan

437.121

0,42%



PMB

414.750

0,40%



PPI

414.043

0,40%



PKP

351.440

0,34%



Pelopor

342.914

0,33%



PKDI

324.553

0,31%



PIS

320.665

0,31%



PNI M

316.752

0,30%



Buruh

265.203

0,25%



PPIB

197.371

0,19%



PPNUI

142.841

0,14%



PSI

140.551

0,14%



PPDI

137.727

0,13%



Merdeka

111.623

0,11%



Jumlah

104.095.847

560

(NL)

Beri Komentar ..
Unknown

Dewasa ini di Indonesia, segala sesuatu dibuat layanan SMS Premium. SMS Premium adalah suatu layanan SMS dimana sang pengguna akan dikenakan tarif yang bisa dibilang sangat tinggi (rata-rata Rp 2000,- per SMS) dibanding tarif SMS normal.

Layanan SMS ini ternyata sarat dengan penipuan. Taruhlah contoh dimana terdapat layanan SMS selebriti yang mengatakan bahwa SMS yang dikirim LANGSUNG dari HP selebriti tersebut. Faktanya, selebriti tersebut tidak mengirimkan SMS tersebut secara langsung melainkan melalui sang penyedia jasa SMS Premium. Baru setelah sang artis mengirim SMS ke provider, oleh provider SMS tersebut akan 'dibom' ke semua orang yang berlangganan. Terkadang, isi dari SMS tersebut tidak ada artinya dan tentu pelanggan dirugikan karena setiap kiriman dari provider akan dikenakan tarif premium. Tentu ini merupakan penipuan dan juga pemborosan.

Ada banyak contoh lain seperti SMS untuk melihat aura, primbon, ramalan, dan masih banyak lagi hal-hal aneh yang dijadikan SMS Premium. Hal ini bukan hanya penipuan, hal ini sudah bisa dibilang pembodohan publik, bayangkan bagaimana sang provider bisa melihat aura, meramal, primbon, atau hal-hal mistik lainnya dari sang pelanggan SMS yang jumlahnya ribuan? Tentu ini hanya merupakan program komputer yang sudah diset. Dan tentu saja ini merupakan penipuan dan juga pembodohan publik karena masyarakat diberitahu akan dikirim ramalan tentang dirinya yang ternyata hanya merupakan program komputer. Di samping itu pula, untuk ramalan, aura, primbon, atau hal-hal mistik lainnya itu pun kebenarannya masih menjadi perdebatan dan hampir semuanya yang hanya bohong belaka.

SMS Premium juga diperparah dengan sulitnya untuk mengakhiri masa berlangganan (di-UNREG). Banyak kasus dimana orang-orang sangat sulit meng-UNREG langganannya. Dan tidak sedikit orang yang pulsanya jebol sampai puluhan juta karena layanan SMS Premium ini.

Jika ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya hal-hal yang ditawarkan oleh SMS Premium di Indonesia hampir seluruhnya tidak ada yang bermutu dan layak untuk diikuti. Tentu untuk orang-orang yang berlangganan hal ini akan menjadi pemborosan luar biasa. Bayangkan, tidak sedikitt provider yang mengirimkan SMS-nya lebih dari satu kali per harinya. Jika hanya satu kali, berarti sang pelanggan harus merogoh kocek minimal Rp 60000,- per bulan. Jumlah yang tidak sedikit dan perlu diingat, itu hanya minimal, dimana hanya satu layanan yang diikuti dan tiap layanan hanya mengirimkan satu kali per hari. Sedangkan yang didapat dari SMS Premium tersebut? Tidak ada.

Semuanya kembali lagi kepada Anda sebagai konsumen. Namun jika disarankan berhati-hatilah dan selektiflah dalam mengikuti layanan SMS Premium. Jika memang itu tidak memberikan sesuatu yang benar-benar bermanfaat buat Anda, jangan mengikutinya karena itu hanya merupakan pemborosan! Terlebih jika itu merupakan program komputer, tentu bukan hanya pemborosan saja, tetapi Anda telah objek penipuan oleh sang provider yang meraup keuntungan yang sangat besar. (NL)

Baca juga: Layanan SMS Berhadiah, Bentuk Perjudian Masa Kini

Beri Komentar ..